Home > Budidaya Jabon, Kayu Jabon > PENGEMBANGAN USAHA PERTANIAN INDONESIA: MEREKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG UNTUK PERTANIAN JABON

PENGEMBANGAN USAHA PERTANIAN INDONESIA: MEREKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG UNTUK PERTANIAN JABON

December 11th, 2010

PENGEMBANGAN USAHA PERTANIAN INDONESIA: MEREKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG UNTUK PERTANIAN JABON

Meningkatnya kebutuhan hidup memaksa seseorang untuk berupaya mensejahterakan diri, terutama dalam segi finansial. Berbicara masalah finansial dan juga kesejahteraan hidup berkaitan erat dengan pekerjaan. Ada banyak sekali jenis pekerjaan yang ada, namun minimnya lapangan kerja menjadikan banyak pengangguran merajalela. Faktanya tidak sedikit sarjana atau mereka yang memiliki jenjang pendidikan lebih rendah hidup tanpa pekerjaan. Fenomena yang tragis memang. Namun disinilah manusia dituntut untuk berpikir lebih kreatif dan produktif. Karena diam dan perpangku tangan jelas bukan solusi. Ada banyak sekali peluang usaha yang bisa kita garap dan lakukan. Indonesia adalah negara yang kaya dan memiliki tanah yang sangat subur. Bagaimana tidak “tongkat dan kayupun jadi tanaman”, itulah salah satu syair yang dipopulerkan oleh salah satu seniman Indonesia. Mengingat begitu suburnya tanah Indonesia, salah satu peluang usaha yang bisa dijalankan yang memiliki manfaat besar dan juga menguntungkan adalah pertanian.

Sebuah artikel yang ditulis oleh Euphrasia Susy Suhendra mengenai Analisis Struktur Sektor Pertanian Indonesia: Analisis Model Input Out Put, dikatakan bahwa dalam tiga decade terakhir pembangunan nasional menitik beratkan pada sektor manufaktur, sementara sektor pertanian yang sampai saat ini masih menjadi tumpuan hidup masyarakat pada umumnya hanya dijadikan sebagai sektor pendukung. Dan sebagai sektor yang masih  dapat menunjukkan pertumbuhan yang positif pada masa krisis yang menimpa Indonesia, maka perlu dipertimbangkan untuk lebih menitikberatkan kebijakan pembangunan nasional pada sektor pertanian. Dari statement tersbut bisa dikatakan bahwa saat ini sektor pertanian memang membutuhkan perhatian yang lebih dari masyarakat untuk dikembangkan menjadi sektor yang benar-benar mampu membantu pembangunan Nasional sekaligus menunjang hidup masyarakat pada umumnya. Dan hal ini jelas tidak dapat terealisasikan jika hanya melibatkan petani saja, melainkan juga masyarakat luas dan khususnya pemerintah. Dengan keterlibatan masyarakat pada umumnya dan juga pemerintah pada khususnya, diharapkan mampu memaksimalkan rencana mengembangkan sektor pertanian menjadi salah satu sektor pembangunan Nasional.

Sebagaimana orang kenal bahwa Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Banyak sekali jenis pertanian yang bisa dikembangkan di Indonesia, dari mulai pertanian sayur-mayur, obat-obatan, padi-padian, umbi-umbian hingga pertanian yang menghasilkan kayu-kayu berkualitas tinggi dan memiliki nilai jual mahal seperti, pohon jati, pohon jabon dan lain sebagainya. Ada banyak sekali jenis-jenis kayu yang ramai di pasaran Indonesia baik yang banyak dieksport ke luar negeri, kurang lebih sekitar 60 lebih jenis kayu. Dan semakin marak dan mahalnya permintaan kayu, baik untuk usaha meubel, bangunan, eksport, usaha kayu lapis dan sebagainya, maka pertanian kayu pun mulai ramai digarap. Dan salah satu usaha yang bisa dikembangkan untuk membantu mengembangkan sektor pertanian menjadi salah satu sektor pembangunan Nasional adalah pertanian jabon.

PENDAHULUAN; PENTINGNYA PERTANIAN KAYU

Di era globalisasi ini banyak peluang diberikan kepada sektor pertanian untuk berkembang lebih cepat, namun sekaligus memberikan tantangan baru karena komoditas pertanian harus mempunyai keunggulan daya saing dan kemandirian produk pertanian sedemikian rupa sehingga produk pertanian mampu bersaing di pasar domestic maupun internasional.

Melihat kenyataan tersebut, banyak ahli ekonomi pertanian Indonesia mendesak agar sektor pertanian berperan kembali sebagai motor penggerak pembangunan. Hal ini terlihat bahwa sektor pertanian masih memperlihatkan pertumbuhan yang positif pada saat Indonesia sedang dilanda krisis moneter.  Selain itu, krisis atau kendala yang kini dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah masalah pemanasan global, illegal logging dan juga lahan bekas tambang yang masih belum digunakan.

Berdasarkan laporan penelitian LSM Wetland International (WI) dan Delf Hyraulics menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil emisi karbon ketiga di dunia setelah Amerika dan China. Laporan ini sungguh mengejutkan berbagai pihak, khususnya BPPT dan BMG. Hal itu disebabkan bahwa pada tahun sebelumnya, Indonesia hanya menduduki peringkat ke-21. Dapat dilihat bahwa perbedaan peringkat itu sangat siginifikan. Ironisnya disini adalah Indonesia yang merupakan negara agraris yang memiliki banyak lahan yang bisa ditanami pohon, justru menjadi negara yang memberikan sumbangsih emisi karbon ketiga di dunia. Hal ini disebaban karena banyaknya pembakaran hutan, illegal logging, dan bencana alam.

Untuk itu diharapkan negara Indonesia, yang memiliki banyak lahan dan hutan, untuk lebih memanfaatkan lahan tersebut untuk menanam tanaman sebanyak-banyaknya. Agar Indonesia kembali hijau dan kembali menjadi jantung Bumi. Jika jantung Bumi telah rusak, ibarat manusia tinggal menunggu matinya saja. Kita memang tidak bisa serta merta memberikan pengandaian seperti itu, namun sejak dahulu jika yang namnya kerusakan tetap dipelihara maka tunggulah kehancurannya.

Ada banyak sekali potensi lahan yang bisa digunakan dan mulai digarap oleh petani Indonesia, salah satunya adalah lahan bekas tambang. Kita tahu bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan hasil alam dan juga hasil buminya. Lahan bekas tambang merupakan lahan sisa hasil proses pertambangan baik berupa  tambang emas, timah, maupun batubara. Pada lahan pasca tambang biasanya ditemukan lubang-lubang dari hasil penambangan dengan lapisan tanah yang mempunyai komposisi dan warna berbeda. Misalnya, ada lapisan tanah berpasir yang berseling dengan lapisan tanah liat, tanah lempung atau debu. Ada pula lapisan tanah berwarna kelabu pada lapisan bawah, berwarna merah pada bagian tengah dan berwarna kehitam-hitaman pada lapisan atas. Degradasi pada lahan bekas tambang meliputi perubahan sifat fisik dan kimia tanah, penurunan drastis jumlah spesies baik flora, fauna serta mikroorganisme tanah, terbentuknya kanopi (area tutupan) yang menyebabkan suatu tanah cepat kering dan terjadinya perubahan mikroorganisme tanah, sehingga lingkungan tumbuh menjadi kurang menyenangkan. Dengan kata lain, bahwa kondisi lahan terdegradasi memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan struktur tanah yang kurang baik. Disinilah diperlukan yang namanya reklamasi.

Reklamasi adalah kegiatan pengelolaan tanah yang mencakup perbaikan kondisi fisik tanah overburden agar tidak terjadi longsor, pembuatan waduk untuk perbaikan kualitas air masam tambang yang beracun, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan revegetasi. Revegetasi sendiri bertujuan untuk memulihkan kondisi fisik, kimia dan biologis tanah tersebut.

Mengenai kebijakan mereklamasi lahan bekas tambang telah jelas tercantum dalam:

Ø  UU No. 11/1967 Pasal 30, tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Bunyinya, “Apabila selesai melakukan penambangan bahan galian pada suatu tempat pekerjaan, pemegang KP diwajibkan mengembalikan tanah sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bahaya bagi masyarakat sekitarnya.”

Ø  PP No. 32/1969, tentang Pelaksanaan UU No. 11/1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan

Ø  PP No. 75/2001, tentang Perubahan Kedua Atas PP No. 32/1969

Pasal 46 ayat (4)

“Sebelum meninggalkan bekas wilayah KP-nya, baik karena pembatalan maupun karena hal yang lain, pemegang KP harus terlebih dahulu melakukan usaha-usaha pengamanan terhadap benda-benda maupun bangunan-bangunan dan keadaan tanah di sekitarnya yang dapat membahayakan keamanan umum.”

Pasal 46 ayat (5)

“Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota sesuai kewenangannya dapat menetapkan pengaturan keamanan bangunan dan pengendalian keadaan tanah yang harus dipenuhi dan ditaati oleh pemegang KP sebelum meninggalkan bekas wilayah KP.”

Ø  Kepmen PE No. 1211.K/1995, tentang Pecegahan dan Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan Pada Kegiatan Pertambangan Umum.

Pasal 12

1) Reklamasi areal bekas tambang harus dilakukan secepatnya sesuai dengan rencana dan persyaratan yang telah ditetapkan

2) Reklamasi dinyatakan selesai setelah disetujui oleh Dirjen

Pasal 13

1) Kepala Teknik Tambang wajib menanami kembali daerah bekas tambang, termasuk daerah sekitar project area sesuai studi AMDAL yang bersangkutan

Ø  Kep Dirjen PU No. 336/1996, tentang Jaminan Reklamasi.

“Perusahaan harus menyediakan dana jaminan reklamasi dalam salah satu bentuk                    (1) deposito, atau (2) cadangan dalam pembukuan, atau (3) asuransi dari pihak ketiga.”

Dalam Kepmen PE No. 1211.K/008/M.PE/95, yang dimaksud reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan umum, agar dapat berfungsi dan berdayaguna sesuai dengan peruntukkannya. Jadi jika ditilik dari Kepmen PE No. 1211.K/008/M.PE/95 ini, ada dua kesimpulan yang bisa diambil dari makna reklamasi. Pertama, kebijakan reklamasi ditujukan agar pembukaan lahan untuk pertambangan seoptimal mungkin, dan setelah digunakan segera dipulihkan fungsi lahannya. Kedua, reklamasi harus dilaksanakan secepatnya sesuai dengan kemajuan tambang, dan reklamasi merupakan bagian dari skenario pemanfaatan lahan pasca tambang.

Dari kebijakan tersebut, masyarakat dengan dibantu pemerintah harus secepatnya memberikan action atau langkah pasti untuk mewujudkan reklamasi lahan bekas tambang. Agar lahan-lahan yang sebelumnya telah rusak akibat kegiatan penambangan bisa cepat dipulihkan menjadi fungsi lahan sebelumnya.

Beberapa orangg berpendapat bahwa upaya perbaikan dengan cara reklamasi ini masih dirasakan kurang efektif, hal ini karena beberapa tanaman secara umum kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan ekstrim, termasuk bekas lahan tambang. Namun Institute Pertanian Bogor menyebutkan ada bebrapa jenis tanaman yang bisa dikembangkan atau ditanam pada lahan reklamasi ini.

Untuk jenis tanaman fast growing/pioneer, yaitu:

  1. Sengon-paraserianthes falcataria (habitat asli-Sulawesi, Maluku dan papua, komersial)
  2. Sengon buto-Enterelobium cyclocarpum (exotic, komersial)
  3. Acacia mangium (habitat asli-Maluku dan Papua, komersial)
  4. Accasia crassicarpa (exotic, komersial)
  5. Jabon-Antocephalus sp (Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, komersial)
  6. Macaranga sp. (belum komersial)
  7. Angsana-Pterocarpus indicus (Saat ini telah menyebar ke seluruh Indonesia untuk tanamman pelindung, komersial)
  8. Gmelina arborea (exotic, komersial)

Selain jenis-jenis tanaman di atas, ada juga jenis tanaman lokal yang bisa dikembangkan pada lahan bekas tambang, seperti Jati, Balau, Bangkilai dan sebagainya. Jenisnya kurang lebih mencapai 45 lebih jenis tanaman lokal. Yang menarik disini, kita memiliki banyak alternative pilihan tanaman untuk dikembangkan pada lahan reklamasi bekas tambang. Dan disini ada salah satu jenis tanaman yang mampu dikembangkan dengan mudah dan memberikan keuntungan yang lebih bagi para petani, yaitu jabon.

Kebanyakan masyarakat mungkin masih banyak yang awam mengenai bibit jabon. Dan banyak diantara mereka yang menanyakan apa sebenarnya itu jabon? Dan kelabihan apa yang bisa diberikan? Jabon adalah salah satu bibit tanaman yang saat dewasa nanti bisa dimanfaatkan kayunya. Saat ini bibit jabon sudah mulai terkenal di masyarakat. Mereka mengenalnya sebagai bibit yang banyak memberikan banyak keuntungan. Dilihat dari manfaatnya, tanaman jabon memiliki manfaat yang sama dengan kayu sengon, yaitu sama-sama bisa digunakan sebagai bahan meubel dan sejenisnya. Namun, tanaman jabon memiliki keuntungan lebih dibandingkan dengan tanaman sengon.

Adapun kelebihan tanaman jabon disbanding tanaman sengon adalah:

  1. Daunnya tidak disukai ternak, sehingga tidak perlu khawatir terjadi pencurian daun.
  2. Daun jabon akan rontok sendiri, itu akan membuat kayu jabon lurus rata ke atas tidak ada benjolan.
  3. Tanamannya tidak dihinggapi tumor karat.
  4. Kayu jabon juga lebih banyak manfaatnya dibanding kayu sengon, lebih banyak diserap oleh banyak industri diantaranya kayu lapis, industri meubel, tripleks, pulp, papan, produsen peti buah, Alas sepatu, mainan anak-anak dan korek api.
  5. Perawatan lebih mudah.
  6. Dapat bertumbuh di berbagai jenis tanah seperti; tanah liat, tanah lempung atau pun tanah berbatu
  7. Pertumbuhan lebih cepat.
  8. Siap panen di umur 4 tahun ataupun 5 tahun.

Itu adalah bebrapa kelebihan tanaman jabon dibandingkan dengan tanaman sengon. Selain itu ada banyak lagi manfaat bertani jabon.

KEUNTUNGAN BERTANI JABON

Keuntungan Finansial

Keuntungan pertama yang akan didapatkan dari bertanam Jabon  adalah keuntungan dari segi finansial. Ini jelas keuntungan utama yang ingin didapat. Dengan perawatan intensif diameter tanaman jabon bisa bertambah hingga 10 cm pertahunnya, dan tingginya bisa mencapai 20 meter di usia 5-6 tahun. Jadi paling tidak pada usia 5-6 tahun, tanaman jabon sudah bisa dipanen. Dan dalam kurun waktu 5-6 tahun diameter pohon bisa mencapai 30 cm.

Jika dalam waktu 5-6 tahun pertumbuhan tanaman jabon mencapai 12m dengan diameter 30 cm, maka kurang lebih batang jabonn yang bisa dijual sebanyak 1,5 kubik. Saat ini, harga perkubiknya adalah Rp 1,000,000,00. Jadi, keuntungan per tanaman yang akan didapatkan adalah Rp 1,500,000,00.

Itu baru satu pohon saja, jika pohon yang dimiliki minimal 100 pohon jabon, maka keuntungan yang bisa didapat adalah:

1,500,000,00 x 100 = 150,000,000/5-6 tahun

Itu hanya keuntungan kecilnya saja, karena dalam 1 ha lahan, dapat ditanam sebanyak 500 batang bibit jabon dengan jarak 4×5 m. Jadi, jika memiliki lahan tanah 1 ha dan 500 batang jabon, maka keuntungannya jelas akan lebih banyak.

Ekonomis dan Simple

Keuntungan kedua yang bisa didapatkan dalam bertani bibit jabon adalah ekonomis dan simple penanamannya. Bibit jabon bisa didapatkan langsung dengan mudah. Kami menyediakan banyak bibit jabon yang bisa dipesan sesuai permintaan. Jabon merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan berkembang serta tidak perlu memerlukan perlakuan khusus. Ada beberapa proses dalam penanaman bibit jabon, diantaranya adalah Proses Penaburan Biji Jabon, Proses Penyemaian Biji Jabon, Proses Pemisahan Bibit Jabon, dan Proses Pembibitan Bibit Jabon .

Selain itu dalam memasarkan kayu jabon juga termasuk mudah. Karena jenisnya yang berwarna putih agak kekuning-kuningan dan tanpa terlihat seratnya, maka kayu jabon sangat dibutuhkan pada industry kayu lapis (playwood), bahan baku meubel dan furniture, serta bahan bangunan non konstruksi. Jadi, setelah kayu jabon siap panen, tidak perlu repot dan pusing ke mana harus menjualnya karena pengusaha kayu lapis pun siap menampungnya.

Cinta Lingkungan

Selain mendapat keuntungan secara finansial, dengan bertani bibit jabon maka kita telah ikut serta menghijaukan Bumi. Entah sudah berapa banyak pohon yang secara illegal ditebang tanpa tanggung jawab, alhasil banjir, tanah longsor dan bencana alam lainnya pun melanda Bumi kita. Hal ini terjadi kareana pepohonan yang seharusnya berperan menyerap air hujan banyak harus ditebang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Karenanya, dengan ikut bertani bibit jabon secara tidak langsung kita telah ikut serta menghijaukan kembali Bumi kita.

Dan proyek penanaman bibit jabon dijamin seratus persen adalah proyek cinta lingkungan. Bagaimana tidak, pertama, dengan menanam pohon kita telah berperan serta menghijaukan kembali Bumi ini. Kedua, daun pohon jabon akan banyak yang gugur dan lama-kelamaan akan menjadi busuk dan bisa berubah menjadi kompos untuk tanah. Dan yang terakhir, kita tidak harus mencemari lingkungan atau udara dengan limbah-limbah berbahaya.

Mengurangi Dampak Global Warming

Pemanasan global (Global Warming) adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Pemanasan global yang terjadi diakibatkan oleh adanya efek rumah kaca. Efek rumah kaca ini terjadi karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. Ini berkaitan dengan statement sebelumnya tentang banyaknya pohon yang telah ditebang secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dan hasilnya adalah Bumi yang hijau menjadi gundul, bencana alam dan yang sedang trend saat ini adalah masalah pemanasan global. Berikut merupakan akibat yang ditimbulkan dari pemanasan global:

1)      Iklim mulai tidak stabil. Baru-baru ini para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung meningkat.

Selain itu, daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, sehingga akan menurunkan proses pemanasan. Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan. Di samping itu, badai akan menjadi lebih sering. Air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai akan menjadi lebih besar.

2)      Peningkatan permukaan laut

Perubahan tinggi permukaan laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai.

3)                  Suhu global cenderung meningkat

Orang mungkin beranggapan bahwa bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

4)                  Dampak sosial dan politik

Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan langkanya sumber makanan. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian sehingga sering mengakibatkan munculnya penyakit, seperti: diare, malnutrisi, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases atau penyebaran penyakit melalui air. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi, penyakit jantung dan paru kronis, serta penyakit berbahaya lainnya.

Sungguh mengerikan memang, dan jika keadaan ini terus dibiarkan tanpa ada tindakan yang pasti maka hancurlah Bumi ini. Dan lagi-lagi dengan ikut bertanam jabon, Anda ikut berperan serta dalam mengurangi dampak global warming. Semakin banyak bibit yang ditanam, maka akan semakin banyak pohon yang akan mengabsorbsi kenaikan konsentrasi gas CO2. Dan anak-cucu kita juga akan ikut merasakan hasilnya.

PENUTUP

Setelah menganalisa bebebrapa hal mengnai pentingnya mengembangkan sektor pertanian di Indonesia, maka kesimpulan yang bisa kita peroleh disini adalah bahwa sektor sektor pertanian di Indonesia memang membutuhkan akselarasi untuk mengembangkan diri menjadi salah satu sektor yang mampu menunjang ekonomi Nasional. Mengingat sektor pertanian adalah adalah salah satu sektor usaha masyarakat Indonesia. Selain itu Indonesia juga tengah mengalami krisis pemanasan global yang memberikan banyak efek negative bagi iklim dan cuaca di Indonesia pada khusunya dan dunia pada umumnya. Pepohonan-pepohonan hijau yang dahulu banyak menyelimuti kepulauan Nusantara kini banyak terbabat karena banyak factor. Diantara factor tersebut adalah illegal logging, pemanfaatan lahan tambang sehingga merusak fungsi lahan, pembakaran hutan dan banyak yang lainnya. Dampaknya adalah Indonesia dianggap menjadi negara terbesar  ketiga penyumbang emisi gas di Bumi.  Sungguh tragis mendengarnya. Untuk itu demi melancarkan program pengembangan sektor pertanian Nasional sekaligus meminimalisir dampak pemanasanglobal yang kini melanda dunia, maka salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pertanian kayu di lahan reklamasi bekas tambang. Dan salah satu jenis tanaman yang bisa kita kembangkan adalah tanaman jabon yang memberikan banyak manfaat dan keuntungan. Dengan begitu kita akan mendapatkan banyak manfaat dalam sekali langkah, yaitu;

a)      Membantu memberikan lapangan kerja kepada masyarakat tanpa merusak lingkungan

b)      Mengembalikan fungsi lahan bekas tambang

c)      Membantu membangun ekonomi negara di sektor pertanian

d)      Memberikan keuntungan bagi petani dan juga negara

e)      Mengurangi efek pemanasan global

f)       Mengurangi emisi gas

g)      Menghijaukan bumi Nusantara kembali

Kapanlagi kita akan mendapatkan keuntungan yang berlipat seperti ini. Keuntungan berlipat dalam finansial dan juga keuntungan dalam menjaga Bumi kita tetap bersih dan hijau sekaligus mengembangkan pertanian Indonesia. Jadi, proyek pertanian jabon adalah proyek yang menghasikan finansial yang besar sekaligus ramah lingkungan yang mampu mengurangi dampak pemanasan global._*nk*_

, ,

  1. No comments yet.
  1. January 21st, 2011 at 23:40 | #1
Comments are closed.

PENGEMBANGAN USAHA PERTANIAN INDONESIA

MEREKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG UNTUK PERTANIAN JABON